Selengkapnya...
Usung AI untuk Pengawasan Pemilu, Dosen STMIK Banjarbaru Raih Juara di Call for Paper Bawaslu
Administrator, 18 Agustus 2026

Banjarbaru – Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung pengawasan pemilu mengantarkan dosen STMIK Banjarbaru meraih prestasi dalam forum ilmiah tingkat nasional. Wahyudi Ariannor, S.Kom., M.I.Kom. bersama Budi Susarianto, M.A.P. berhasil meraih Juara Harapan III Call for Paper dalam rangka HUT Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) ke-18 Tahun 2026, kategori Masyarakat Umum dengan luaran Book Chapter. Hasil akhir kompetisi diumumkan pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Call for Paper HUT Bawaslu ke-18 mengangkat tema “Pengawasan Pemilu Berintegritas: Inovasi, Partisipasi, dan Keadilan Elektoral dalam Demokrasi Indonesia.” Kegiatan yang diselenggarakan Bawaslu RI tersebut membuka ruang partisipasi intelektual untuk menghimpun gagasan, pengalaman, hasil kajian, serta refleksi kritis mengenai demokrasi, pemilu, dan pengawasan pemilu di Indonesia.

Proses seleksi berlangsung dalam beberapa tahapan sejak April hingga Agustus 2026. Pengumpulan abstrak dilaksanakan pada 9 s.d. 29 April 2026 dan dilanjutkan dengan pengumuman hasil seleksi abstrak pada 30 April. Peserta yang lolos kemudian menyusun naskah lengkap pada 1–30 Mei, dilanjutkan proses review dan asistensi pada 1 Juni–31 Juli 2026. Pengumuman naskah yang lolos untuk diterbitkan dilakukan pada 13 Agustus, dilanjutkan pengumuman naskah yang masuk tahap penjurian pada 14 Agustus, seminar hasil dan penjurian pada 15 Agustus, hingga pengumuman akhir pada 17 Agustus 2026.

Pada kategori Masyarakat Umum dengan luaran Book Chapter, sebanyak 451 abstrak berhasil melewati seleksi awal. Setelah melalui tahapan penyusunan naskah lengkap serta proses review dan asistensi, 143 naskah kategori Masyarakat Umum dinyatakan lolos untuk luaran Book Chapter.

STMIK Banjarbaru berhasil menempatkan dua karya dosennya dalam daftar naskah yang lolos tersebut.

Naskah pertama ditulis oleh Dr. Budi Rahmani, M.Kom., dosen STMIK Banjarbaru, dengan judul “Digitalisasi Nawa Cita Elektoral: Integrasi Filosofi Ki Hajar Dewantara dan Teknologi Biometrik Terpusat untuk Menjamin Integritas serta Keadilan Pemilu Indonesia.” Naskah berkode ABS-228 tersebut berhasil melewati rangkaian seleksi hingga dinyatakan lolos untuk luaran Book Chapter Bawaslu.

Naskah kedua ditulis oleh Wahyudi Ariannor, S.Kom., M.I.Kom. bersama Budi Susarianto, M.A.P., keduanya dosen STMIK Banjarbaru. Naskah berkode ABS-82 tersebut berjudul “Analisis Sentimen Netizen Sebagai Indikator Awal Dalam Pengawasan Pemilu: Studi Pada Putusan Mahkamah Konstitusi 2024.” Kedua karya dosen STMIK Banjarbaru tersebut berada pada subtema Demokrasi Digital, Literasi Publik, dan Tantangan Pengawasan Pemilu.

Melaju ke Enam Finalis

Perjalanan naskah Wahyudi Ariannor dan Budi Susarianto tidak berhenti pada tahap penerbitan Book Chapter. Dari naskah kategori Masyarakat Umum dengan luaran Book Chapter yang telah melalui proses seleksi, panitia menetapkan enam naskah untuk melaju ke tahap final dan mengikuti penjurian melalui presentasi di hadapan dewan juri.

Naskah ABS-82 karya Wahyudi Ariannor dan Budi Susarianto berhasil menjadi salah satu dari enam finalis tersebut. Dokumen finalis Bawaslu mencatat naskah keduanya bersama lima karya lain yang mengikuti tahap penjurian kategori Masyarakat Umum dengan luaran Book Chapter.

Tahap penjurian dilaksanakan secara daring pada 15 Agustus 2026. Dalam kesempatan tersebut, Wahyudi Ariannor mewakili tim sebagai presenter, memaparkan hasil kajian sekaligus mempertahankan gagasan yang ditawarkan dalam naskah di hadapan dewan juri.

Setelah melalui tahap penjurian, hasil akhir yang diumumkan pada 17 Agustus 2026 menempatkan karya Wahyudi Ariannor dan Budi Susarianto sebagai Juara Harapan III kategori Masyarakat Umum dengan luaran Book Chapter.

AI sebagai Instrumen Pemantauan Awal Pengawasan Pemilu

Penelitian yang diusung Wahyudi Ariannor dan Budi Susarianto memanfaatkan analisis sentimen terhadap percakapan netizen mengenai Putusan Mahkamah Konstitusi terkait Pemilu 2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa sentimen negatif menjadi kecenderungan terbesar sebesar 46,10 persen, sementara isu mengenai hakim, demokrasi, rakyat, dan hukum menjadi beberapa tema yang menonjol dalam percakapan.

Temuan tersebut kemudian dikembangkan menjadi gagasan pemanfaatan analisis sentimen berbasis AI sebagai salah satu instrumen pemantauan awal (early warning) dalam pengawasan pemilu di ruang digital. Analisis terhadap percakapan publik dapat membantu pengawas mengenali kecenderungan respons serta isu yang berkembang dan memerlukan perhatian lebih lanjut.

Meski demikian, hasil analisis sentimen tidak diposisikan sebagai bukti terjadinya pelanggaran pemilu maupun sebagai representasi pendapat seluruh masyarakat. Informasi yang dihasilkan berfungsi sebagai indikator awal yang selanjutnya tetap perlu diverifikasi melalui mekanisme pengawasan formal.

Wahyudi menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari perspektif keilmuan Sistem Informasi, terutama bagaimana data digital dapat diolah menjadi informasi yang bermanfaat dalam mendukung pengambilan keputusan.

“Keilmuan saya adalah Sistem Informasi, sehingga fokus kontribusi saya adalah bagaimana data digital diolah menjadi informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan. Dalam konteks ini, saya menerapkan analisis sentimen berbasis AI terhadap data media sosial sebagai instrumen pendukung pemantauan awal dalam pengawasan pemilu,” jelas Wahyudi.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat aktivitas demokrasi tidak hanya berlangsung dalam ruang konvensional. Media sosial dan berbagai platform digital kini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan dan merespons berbagai peristiwa politik dan kepemiluan.

“Ruang demokrasi saat ini juga telah bergeser ke ruang digital. Sebagai dosen Sistem Informasi, saya melihat ada persoalan bagaimana data digital yang sangat besar tersebut dapat diolah menjadi informasi yang berguna bagi pengawasan. Jadi, saya membawa perspektif teknologi dan analisis data ke dalam domain demokrasi dan pemilu,” ungkapnya.

Wahyudi juga menekankan bahwa penggunaan AI dalam konteks tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia dalam melakukan pengawasan pemilu.

“Analisis sentimen membantu mengidentifikasi kecenderungan respons publik dan isu yang menonjol di ruang digital, yang kemudian dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme pengawasan dan verifikasi formal. Jadi, AI berfungsi sebagai alat bantu untuk memperluas kapasitas pengawasan, bukan menggantikan pengawas pemilu,” tambahnya.

Dari Kalimantan Selatan untuk Kontribusi Nasional

Keberhasilan dosen STMIK Banjarbaru dalam Call for Paper HUT Bawaslu ke-18 menjadi salah satu bentuk kontribusi akademik perguruan tinggi bidang teknologi informasi terhadap persoalan yang berkembang di masyarakat. Dua naskah dosen berhasil melewati seleksi untuk luaran Book Chapter, sementara salah satunya melaju hingga enam finalis dan meraih Juara Harapan III.

Capaian tersebut juga menunjukkan luasnya ruang penerapan keilmuan yang dikembangkan di STMIK Banjarbaru. Teknologi informasi tidak hanya dapat diterapkan untuk membangun perangkat lunak dan sistem komputasi, tetapi juga dapat digunakan untuk membantu memahami dan memberikan alternatif solusi terhadap persoalan sosial melalui pengolahan data, kecerdasan buatan, dan pendekatan ilmiah.

Dari Kalimantan Selatan, dosen STMIK Banjarbaru turut membawa perspektif teknologi informasi ke dalam diskursus mengenai demokrasi dan pengawasan pemilu di tingkat nasional. Hal ini sejalan dengan upaya institusi untuk terus mendorong dosen menghasilkan penelitian yang relevan, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan memiliki manfaat bagi masyarakat.

Prestasi tersebut diharapkan dapat turut memperkuat budaya akademik di lingkungan STMIK Banjarbaru serta menjadi motivasi bagi dosen dan mahasiswa untuk terus berkarya, melakukan penelitian, dan berpartisipasi dalam berbagai forum ilmiah. Melalui pengembangan kompetensi di bidang Sistem Informasi, Teknik Informatika, kecerdasan buatan, dan analisis data, STMIK Banjarbaru terus mendorong pemanfaatan teknologi informasi yang tidak hanya inovatif secara teknis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.